Diberdayakan oleh Blogger.

Pages

Selamat Datang di Website/ Blog Pribadi Saya. By: Iner Yual

Minggu, 06 Oktober 2019

MATERI KAMPUS (PROPOSAL PENELITIAN MANAJEMEN OPERASIONAL)


PROPOSAL PENELITIAN



ANALISIS SISTEM PRODUKSI
TAS (NOKEN) TRADISIONAL PAPUA
DI KOTA JAYAPURA

Usulan Penelitian Untuk Skripsi S–1

  




Diajukan Oleh :

INNER YUAL
121163401140165
Program Studi Manajemen



UNIVERSITAS OTTOW GEISSLER PAPUA
FAKULTAS EKONOMI
JAYAPURA 2018


Lembar Pengesahan  

Usulan Penelitian




ANALISIS SISTEM PRODUKSI
TAS (NOKEN) TRADISIONAL PAPUA
DI KOTA JAYAPURA




Oleh :
INNER YUAL
12116401140165
Program StudI Manajemen




Disetujui, Tanggal 12 Juni 2018
Dosen Seminar Konsentrasi




Ester Saranga, SE., M.Si



KATA PENGANTAR
Segalah Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Allah Yang Maha Esa, karena kasih dan pertolonganNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan usulan proposal penelitian dengan judul Analisis Sistem Produksi Tas (Noken) Tradisional Papua di Kota Jayapura dengan tepat waktu.
Penulis sangat menyadari bahwa, terselesainya ulusan proposal penelitian ini tidak dapat terwujud jika tanpa campur tangan dan pimbingan dari berbagai pihak, namun boleh terlaksana dengan tepat waktu oleh karena campur tangan dan pimbingan dari berbagai pihak. Olehnya itu, dengan segala kerendahan hati yang tulus penulis ingin menyampaikan rasa hormat dan terima kasih serta penghargaan yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat :
1.      Bapak Dr. Ferdinandus Christian, SE., MM, selaku Dosen pembimbing dan pengajar mata kuliah metode penelitian yang telah membekali penulis dengan ilmu pengetahuan dan pengalamannya sehingga penulis bisa memahami bagaiman metode menulis penelitian secara sistematis dan ilmiah.
2.      Ibu Ester Saranga, SE., M.Si, selaku Dosen seminar konsentrasi yang telah meluangkan waktu, tenaga dan pikiran dalam memberikan masukan yang berguna kepada penulis sehingga proposal penelitian ini dapat terselesaikan dengan baik.
3.      Bapak Ibu, teman-teman, ade-ade dan seluruh pihak yang telah membantu penulis secara moril dan material selama penyusunan usulan proposal penelitian ini.
Penulis menyadari bahwa, penulisan usulan proposal penelitian ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu, penulis membutuhkan kritik dan saran yang bersifat membangun agar dapat menyempurnakan penulisan usulan proposal penelitian ini sesuai dengan sistematika penulisan yang berlaku. Semoga proposal penelitian ini menjadi salah satu sumbangan pemikiran dalam pengembangan ilmu ekonomi di lembaga Universitas Ottow dan Geissler Jayapura, Papua.
Akhirnya dengan segala kerendahan hati tulus dan iklas, penulis memohon kiranya Tuhan yang punya berkat dan rahmatNya dapat menyertai kita semua “Amin”. 

                                                                                    Port Numbay, 2018 


                                                                                           Penulis
                                               Inner Yual




BAB I
PENDAHULUAN
1.1.  Latar Belakang
Dewasa ini banyak dijumpai perusahaan yang memproduksi barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan masyarakat. Untuk memproduksi barang dan jasa tersebut diperlukan adanya sistem produksi yang baik, kualitas sumber daya manusia yang unggul dan fasilitas yang lengkap untuk menghasilkan produk yang berkualitas bagi kehidupan masyarakat. 
Pengertian produksi menurut Aguilano (2001 : 8) adalah sebagai berikut: MERCU BUANA  A sistem that uses resources to transform input into some desired output” Sedangkan menurut sofyan Assauri ( 2004 : 75) definisi proses produksi adalah cara, metode dan teknik untuk menciptakan atau menambah kegunaan suatu barang atau jasa dengan menggunakan sumber- sumber ( tenaga kerja, mesin, bahan-bahan dan dana) yang ada. 
 Sistem produksi adalah suatu rangkaian dari beberapa elemen yang saling berhubungan dan saling menunjang antara satu dengan yang lain untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Dalam sistem produksi modern terjadi suatu proses transformasi nilai tambah yang mengubah input menjadi output yang dapat dijual dengan harga kompetitif di pasar. (Ahyani, 1996: 8). 
Untuk menghasilkan suatu produk dapat dilakukan melalui beberapa cara, metode, dan teknik yang berbeda-beda. Walaupun sistem produksi sangat banyak, tetapi secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua jenis sistem produksi, yaitu sistem produksi terus menerus (kontiunuous process) dan sistem produksi terputus-putus (intermiten process). Maka dengan demikian, sistem produksi tas tradisional Papua di Kota Jayapura adalah sistem produksi terputus-putus (intermident process).
Sistem produksi tas (noken) tradisional Papua di kota Jayapura juga merupakan suatu cara atau teknik yang digunakan oleh mama-mama Papua dalam proses produksinya. Setiap perusahaan kecil maupun besar sistem produksinya tentu berbeda-beda dan dapat berubah-berubah sesuatu dengan kemajuan dan perkembangan modernisasi, tetapi sistem produksi tas (noken) tradisional Papua di Kota Jayapura ini dahulu hingga saat ini masih menggunakan dengan sistem produksi tradisional.
Walaupun sistem produksi tas tradisional Papua di Kota Jayapura ini terlihat sistem tradisional, tetapi alat dan bahan baku yang digunakan dalam proses produksi tas tradisional Papua di kota Jayapura ini semakin perkembang sesuai dengan tuntutan jaman.  Sistem produksi tas tradisional Papua adalah salah satu warisan budaya untuk terus berkreasi dan melestarikan oleh kaum wanita di Papua, tetapi para kaum muda di Papua jarang mempelajari sistem produksi tas tradisional Papua. 
Sistem produksi tas (noken) tradisional Papua di Kota Jayapura sejak dulu hingga saat ini mama-mama Papua memproduksi tas (noken) dengan sistem masukan (input), transformasi (process) dan hasil akhir (output)nya secara tradisional. 
Input produksi adalah sumber daya yang biasa digunakan oleh mama-mama Papua dalam proses produksi tas (noken) tradisional Papua di Kota Jayapura.  Sumber daya yang dimaksud adalah tenaga kerja, uang, cara produksi, material atau bahan baku, mensin atau peralatan produksi, informasi dan sumberdaya lainnya. Sumber daya yang akan ditransformasikan sangat penting bagi mama-mama Papua dalam proses produksinya, karena dengan demikian dapat memproduksi tas yang berkualitas sesuai harapan pelanggan. Jika seluruh sumber daya ini dapat dikelolah dengan baik, maka input produksi perusahaan dapat ditransformasikan menjadi output produksi yang berkualitas. 
“Proses adalah suatu cara, metode maupun teknik untuk menyelenggarakan atau melaksanakan dari suatu hal tertentu.” (Agus Ahyari, 2002: 65). Menurut Sofjan Assaruri (2008 :36) bahwa, proses produksi merupakan kegiatan yang dengan menggunakan peralatan sehingga masukan atau input dapat diolah menjadi keluaran yang berupa barang atau jasa yang akhirnya dapat dijual kepada pelanggan untuk memungkinkan perusahaan memperoleh hasil keuntungan yang diharapkan. Proses produksi yang dilakukan dalam suatu sistem, sehingga pengolahan atau pentransformasian dapat dilakukan dengan menggunakan peralatan yang dimiliki.
Pengertian proses menurut Vincent Gaspersz (2004 : 5), yaitu : “Produksi atau operasi adalah fungsi pokok dalam setiap organisasi yang mencakup aktivitas yang bertanggung jawab untuk menciptakan nilai tambah. Produk yang merupakan keluaran (output) dari setiap organisasi industri itu”.
Proses produksi (transformasi) input menjadi output terbagi menajadi 3 tahap, yaitu tahap persiapan, tahap pengerjaan dan tahap akhir. Tahap persiapan dilaksanakan untuk melengkapi setiap alat dan bahan sesuaai dengan kebutuhan produksinya. Tahap pengerjaan dilakukan untuk bahan input menjadi outpuut (tas noken tradisional Papua), sedangkan tahap akhir, dapat dilaksanakan aktivitas inpeksi produk akhir guna memastikan kualitas produk akhir. Dalam menjalankan proses transformasi biasanya sumber daya manusia dan modal adalah faktor utama dalam sistem produksinya.
Proses produksi tas tradisional Papua dahulu hanya menggunakan dengan bahan alamiah, yaitu seperti kulit kayu manduan, nawa, anggrek hutan dan kenemon dapat dipintal, dikeringkan, diserat atau ditenun tali sebagai benang kemudian dirajut tas (noken)  atau memproduksikan tas tradisional Papua. Tidak hanya itu, tas (noken) juga ciri khas yang berbeda dalam produksinya, baik dari bahan, rajutan, hingga motifnya pun berbeda. Dalam produksi tas tradisional Papua ini juga biasanya menggunakan bahan pewarna alamiah tertentu, yaitu seperti warna kuning, merah, hitam dan hijau. Namun era perkembangan ini terus berjalan, maka ada banyak bahan dan alat yang mempermudah mama-mama Papua dalam memproduksi tas tradisional Papua di Kota Jayapura, sepertinya adalah benang dan lain-lain sehingga mama-mama Papua bisa dapat memproduksikan tas yang berkualitas menurut bentuk, ukuran dan warna tasnya. Ada dua jenis tas (noken), yaitu tas asli dan benang. Kedua jenis noken tersebut memiliki perbedaan baik dari bahan baku, bentuk, ukuran dan warnanya.
Hasil akhir (output) yang dihasilkan oleh mama-mama Papua di kota Jayapura adalah berupa barang/tas (noken) berukuran sedang, kecil, ada yang berbentuk baju, topi dan berbagai jenis atau model tasnya. Cara menggunakan tas (noken) tradisional Papua adalah ada yang disangkutkan dari kepala ke belakang, ada yang disangkutkan diatas bahu dan bisa mengenakan seperti baju dan topi. Selain itu kualitas dan harga tas (noken)  juga adalah salah satu hasil akhir dari sistem produksi tas tradisional Papua di Kota Jayapura.
Berdasrkan uraian latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk mengambil judul penelitian tentang: ANALISIS SISTEM PRODUKSI TAS (NOKEN) TRADISIONAL PAPUA DI KOTA  JAYAPURA
1.2. Rumusan Masalah
Sistem produksi tas tradisional Papua di kota Jayapura adalah suatu cara atau teknik yang digunakan oleh mama-mama Papua dalam memproduksi tas (noken) tradisional Papua, namun mama-mama Papua di kota Jayapura saat ini masih mengalami kendala dalam sistem produksinya. Oleh karena itu, yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana Sistem Produksi Tas (Noken) Tradisional Papua di Kota Jayapura”.

1.3. Persoalan Penelitian
Terkait dengan rumusan masalah diatas, maka yamg menjadi pokok persoalan dalam penelitian ini adalah :
1.         Apa yang menjadi input dalam sistem produksi tas tradisional Papua di Kota Jayapura?
2.         Bagaimana proses produksi tas tradisional Papua di Kota Jayapura?
3.         Bagaimana perkembangan output sistem produksi tas tradisional Papua di Kota Jayapura?
4.         Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi sistem produksi tas tradisional Papua di Kota Jayapura

1.4. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.    Untuk mengetahui  input dalam sistem produksi tas tradisional Papua di Kota Jayapura.
2.    Untuk mengetahui proses produksi tas tradisional Papua di Kota Jayapura
3.    Untuk mengetahui bagaimana perkembangan output sistem produksi tas tradisional Papua di Kota Jayapura.
4.    Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi dalam sistem produksi tas tradisional Papua di Kota Jayapura.

1.5. Manfaat Penelitian
                        Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi :
1.         Secara akademis, diharapkan agar dapat memberikan masukan untuk  pengembangan ilmu pengetahuan tentang Sistem Produksi Tas (Noken) Tradisional Papua di kota Jayapura
2.         Secara praktis dapat dijadikan sebagai bahan masukan  kepada mama-mama Papua untuk mengampil keputusan yang tepat terkait dengan sistem produksi tas tradisional Papua di Kota Jayapura.
3.         Bagi peneliti dapat menambah wawasan dan pengalaman yang sebenarnya tentang sistem produksi Tas (Noken) Tradisional Papua di Kota Jayapura.
1.6. Sejarah Tas (Noken) Tradisional Papua
Dahulu tas (noken) mulai dibuat dengan pemikiran warga saat mereka mengalami kendala ketika memindahkan barang dari satu tempat ke tempat lain dan noken menjadi salah satu barang yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat di Papua sejak dahulu hingga saat ini.  Tujuan memproduksinya tas tradisional Papua ini adalah untuk memindahkan barang dari satu tempat ke tempat lain menggunakan kepala disangkutkan ke bagian belakangm, sepertinya hasil panen, bayi, barang dagangan dan lain-lain.  
Oleh karena kegunaan dan keunikan yang dibawah dengan kepala, maka Indonesia telah meratifikasi Konvensi UNESCO 2012 melalui Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 78 Tahun 2007, tentang Pengesahan Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak benda.
Karena keunikan yang dibawah dengan kepala ini juga, tas (noken) tradisional Papua telah didaftarkan ke UNESO sebagai salah satu hasil karya trodisional dan warisan budaya dunia tak benda (intangible heritage) dalam sidang UNESCO (Unidet Nations Educational Scientific and Cultural Organization) di Paris, pada tanggal 4 Desemer 2012. Maka tas (noken) tradisional masyarakat Papua ditetapkan sebagai warisan kebudayaan tak benda di UNESCO. Jadi, pengakuan UNESCO ini telah mendorong untuk upaya melindungi, mengembangkan dan melestarikan tas tradisional yang dimiliki oleh 250 suku bangsa di Papua dan Papua Barat.
Jadi, tas (noken) tradisional Papua di Kota Jayapura sudah terkenal oleh masyarakat internasional, oleh karena itu perlu ada upaya untuk melindungi, mengembangkan dan melestarikan sebagai warisan khas Papua.


BAB II
LANDASAN TEORI
 2.1. Telaah Pustaka
2.1.1. Pengertian Produksi
Sehubungan dengan permasalahan yang terdapat dalam penelitian ini maka diperlukan adanya teori-teori atau konsep-konsep yang memerlukan penjelasan tentang sistem produksi atau operasi.
Istilah produksi atau operasi sering digunakan pada suatu perusahaan yang menghasilkan output, baik barang maupun jasa. Produk adalah suatu proses dalam menghasilkan suatu produk, dimulai dari produk mentah sampai dengan produk yang bisa dipakai dan bernilai guna. Pengertian produksi atau operasi dapat lebih jelas diketahui dari beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ahli, diantaranya adalah sebagai berikut :
Pengertian produksi menurut Sofyan Assaruri (2008; 17), yaitu : “produksi adalah kegiatan yang mentransformasikan masukan (input) menjadi keluaran (output), tercakup semua aktivitas atau kegiatan yang menghasilkan barang dan jasa, serta kegiatan-kegiatan lain yang mendukung atau menunjang usaha untuk menghasilkan produk tersebut yang berupa barang-barang atau jasa”.
Dari definisi yang dikemukakan oleh Vincent Gaspersz diatas, maka dapat disimpulkan bahwa suatu tugas atau aktivitas dikatakan memiliki nilai tambah apabila penambahan beberapa masukan (input) pada tugas itu akan memberikan nilai tambah produk (barang dan jasa). Proses transformasi nilai tambah dari masukan (input) menjadi keluaran (output) dalam sistem produksi modern selalu melibatkan komponen struktural dan fungsional.
Menurut Vincent Gaspersz (2004; 6), yaitu sistem produskk memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut :
1.      Mempunyai komponen-komponen atau elemen-elemen yang saling berkaitan satu sama lain dan membentuk sat kesatuan yang utuh. Hal ini berguna sistem produksi itu.
2.      Mempunyai tujuan yang mendasari keberadaannya, yaitu menghasilkan produk (barang dan jasa) berkualitas yang dapat dijual dengan harga kompentitif di pasar.
3.      Mempunyai aktivitas berupa proses transformasi nilai tambah keluaran (output) secara efektif dan efisien.
4.      Mempunyai mekanisme yang mengendalikan pengoperasiannya, berupa optimalisasi pengalokasian sumber-sumber daya.
Pengertian produksi atau operasi menurut Reksohadiprodjo (2002; 2), yaitu “produksi adalah transformasi faktor-faktor produksi (bahan mentah, tenaga kerja, modal dan teknologi menjadi hasil-hasil produksi (produk).
Berdasarkan definsi-definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa produksi atau operasi adalah suatu aktivitas penciptaan barang atau jasa dengan menggunakan sumber daya yang dimiliki dengan mempertimbangkan pula aktivitas-aktivitas pendukung lainnya.
2.1.2. Sistem Produksi
Sistem  produksi terdiri atas Masukan (Input), Proses (Transformasi) dan Keluaran (Output), dalam bentuk umum sistem ini terdapat satu atau lebih masukan yang akan diproses dan akan menghasilkan suatu keluaran. Faktor-faktor produksi dikenal pula dengan istilah input dan jumlah produksi selalu juga disebut sebagai output.(Sadono Sukirno, 2008 : 193).
Menurut Andi Kristanto (2003), Sistem adalah jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan atau menyelesaikan suatu sasaran tertentu. Sistem dapat diartikan sebagai suatu kumpulan atau himpunan dari unsur, komponen atau variable-variabel yang terorganisasi, saling berinteraksi, saling tergantung satu sama lain dan terpadu.
Produksi dalam pengertian sederhana adalah keseluruhan proses dan operasi yang dilakukan untuk menghasilkan produk barang atau jasa. System produksi merupakan kumpulan dari sub system yang saling berinteraksi dengan tujuan mentransformasi input produksi menjadi output produksi. Input produksi ini dapat berupa bahan baku, mesin, tenaga kerja, modal dan informasi. Sedangkan output produksi merupakan produk yang dihasilkan berikut sampingannya seperti barang dan jasa.
Pengertian produksi menurut Aguilano (2001,P8) adalah sebagai berikut: MERCU BUANA  A Sistem that uses resources to transform input into some desired output”Sedangkan menurut Sofyan Assauri ( 2004,P75) definisi proses atau produksi adalah cara metode dan teknik untuk menciptakan atau menambah kegunaan suatu barang atau jasa dengan menggunakan sumber daya seperti, ( tenaga kerja,mesin, dana dan material) yang ada.
Sistem produksi dalam pengertian sederhana adalah keseluruhan proses dan operasi yang dilakukan untuk menghasilkan produk atau jasa. Sistem produksi adalah kumpulan dari sub sistem yang saling berinteraksi dengan tujuan mentransformasi masukan (input) produksi menjadi keluaran (output) produksi. Masukan (input) produksi ini dapat berupa bahan baku, mesin, tenaga kerja, modal dan informasi. Sedangkan keluaran (output) produksi merupakan produk yang dihasilkan berikut sampingannya seperti limbah, informasi dan sebagainya. Sistem produksi tersebut dapat dilihat pada gambar 2.1 sebagai berikut : 
 
Gambar 2.1
Sistem Produksi 
Sumber : Sofjan Assaruri “Manajemen Produksi dan Operasi” (2008 : 39)



Sub sistem – sub sistem dari sistem produksi antara lain adalah perencanaan dan pengendalian produksi, pengendalian kualitas, penentuan stantar produksi, peralatan atau fasilitas produksi dan penentuan harga pokok produksi.
Sub sistem – sub sistem dari sistem produksi tersebut akan membentuk konfigurasi sistem produksi. Keandalan dari konfigurasi sistem produksi ini akan tergantung dari produk yang dibuat serta bagaimana cara membuatnya (proses produksi).
Untuk melaksanakan fungsi-fungsi perencanaan harus memiliki organ pelaksanaan. Sistem produksi pada suatu perusahaan harus memiliki bagian-bagian atau organ.
Sistem produksi berawal dari pemahaman terhadap keinginan dan harapan para pelanggan berdasarkan temuan-temuan dari para pelanggan terhadap produk-produk tertentu. Data dan informasi tentang keinginan pelanggan kemudian diterjemahkan ke dalam bentuk rancangan produk atau jasa untuk mengetahui part, komponen dan sub asambly apa yang  dibutuhkan termasuk ukuran, spesifikasi, jenis bahan, jumlah masing-masing item yang  untuk setiap unit produk yang diinginkan.

2.1.3. Sistem Produksi Menurut Proses Menghasilkan Output
Proses produksi merupakan cara, metode, dan teknik untuk menciptakan atau menambah kegunaan suatu produk dengan mengoptimalkan sumber daya produksi (tenaga kerja, mesin, bahan baku, dana) yang ada. Sistem produksi menurut proses menghasilkan output secara ekstrem dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
a)      Proses Produksi Kontinyu (continuous process)
b)       Proses Produksi Terputus (intermittent process/discrete system)
Perbedaan pokok antara kedua proses terletak pada lamanya waktu set-up peralatan produksi. Proses kontinyu tidak memerlukan waktu set-up yang lama karena proses ini memproduksi secara terus-menerus untuk jenis produk yang sama. Misalnya pada pabrik susu instan. Sedangkan proses terputus memerlukan total waktu set-up yang lebih lama karena proses ini memproduksi berbagai proses spesifikasi barang sesuai pesanan, dimana dengan adanya pergantian jenis barang yang diproduksi akan membutuhkan kegiatan set-up yang berbeda. Misalnya usaha perbengkelan.
Selain dua jenis ekstrem tersebut, beberapa ahli sistem produksi mengidentifikasikan adanya proses produksi menurut cara menghasilkan output yang cukup penting, yaitu Proses Produksi Repetitif. Heizer (1988) mendefinisikan proses produksi repetitif sebagai kombinasi antara proses kontinyu dan proses terputus.

2.1.4. Sistem Produksi Menurut Tujuan Operasinya
Dilihat dari tujuan perusahaan melakukan operasi dalam hubunganya dengan pemenuhan kebutuhan konsumen, maka sistem produksi dibedakan menjadi empat jenis, yaitu:
a)      Enginering To Order (ETO), yaitu bila pemesan meminta produsen untuk membuat produk yang dimulai dari proses perancangannya (rekayasa).
b)      Assembly To Order (ATO), yaitu bila produsen membuat desain standar, modul-modul opsional standar yang sebelumnya dan merakit suatu kombinasi tertentu dari modul-modul tersebut sesuai dengan pesanan konsumen. Modul-modul standar tersebut bisa dirakit untuk berbagai tipe produk. Contohnya adalah pabrik mobil, dimana mereka menyediakan pilihan transmisi secara manual atau otomatis.
c)      Make To Order (MTO), yaitu bila produsen menyelesaikan item akhirnya jika dan hanya jika telah menerima pesanan konsumen untuk item tersebut.
d)     Make To Stock (MTS), yaitu bila produsen membuat item-item yang diselesaikan dan ditempatkan sebagai persediaan sebelum pesanan konsumen diterima.

2.1.5. Sistem Produksi Menurut Aliran Operasi dan Variasi Produk

Ada tiga jenis dasar aliran operasi, yaitu flow shop, job shop, dan proyek (Kostas, 1982). Ketiga jenis dasar aliran operasi ini berkembang menjadi aliran operasi modifikasi dari ketiganya, yaitu batch dan continuous). Adapu karakteristikmasing-masing aliran tersebut, yaitu;
a)      Flow Shop, yaitu proses konversi dimana unit-unit output secara berturut-turut melalui urutan operasi yang sama pada mesin-mesin khusus, biasanya ditempatkan sepanjang suatu lintasan produksi. Bentuk umum proses flow shop dapat dibagi menjadi jenis produksi flow shop kontinyu dan flow shop terputus. Pada flow shop kontinyu, proses bekerja untuk memproduksi jenis output yang sama, misalnya pada industri rokok SKM otomatis. Pada slow shop terputus, kerja proses secara periodik diinterupsi untuk melakukan set-up bagi pembuatan produk dengan spesifikasi yang berbeda (meskipun dari desain dasar yang sama).
b)      Continuous, proses ini merupakan bentuk ekstrem dari flow shop dimana terjadi aliran material yang konstan. Contoh dari proses kontinyu adalah industri penyulingan minyak, pemrosesan kimia, dan industri-industri lain dimana kita tidakdapat mengidentifikasi unit-unit output urutan prosesnya secara tepat.
c)      Job Shop, merupakan bentuk proses konversi dimana unit-unit untuk pesanan yang berbeda akan mengikuti urutan yang berbeda pula dengan melalui pusat-pusat kerja yang dikelompokan berdasarkan fungsinya.
d)     Batch, merupakan bentuk satu langkah kedepan dibandingkan job shop dalam hal standarisasi produk, tetapi tidak terlalu terstandarisasi seperti produk yang dihasilkan pada aliran lintasan perakitan flow shop.
e)      Proyek, merupakan proses penciptaan satu jenis produk yang agak rumit dengan suatu pendefinisian urutan tugas yang teratur dengan kebutuhan sumber daya dan penyelesaiannya dibatasi oleh waktu.
2.1.6. Proses Produksi Terus Menerus (Continuouse Pracesses)
Menurut  Sofjan Assauri (2004, 75) proses produksi terus menerus adalah : proses produksi yang menggunakan mesin dan peralatan yang dipersiapkan untuk memproduksi produk dalam jangka waktu yang lama atau panjang tanpa mengalami perubahan untuk jenis produk yang sama.
Menurut T. Hani Handoko (2000, 122) : proses produksi terus menerus adalah proses produksi yang memproduksi kumpulan-kumpulan produk dalam jumlah besar dengan mengikuti serangkaian operasi yang sama dengan kumpulan produk sebelumnya.
Dari kedua definisi diatas dapat disimpulan bahwa proses produksi yang terus menerus adalah suatu proses produksi yang memproduksi produk yang sejenis dalam waktu yang panjang.
Menurut Sofjan Assauri (2004, 76) sifat-sifat atau ciri-ciri proses produksi yang terus menerus adalah sebagai berikut :
a.       Produk yang dihasilkan dalam jumlah besar (produksi masa) dengan variasi sangat kecil dan sudah distandarisasi.
b.      Biasanya menggunakan sistem atau cara penyusunan berdasarkan urutan pengerjaan dari produk yang dihasilkan yang disebut product lay out atau departement by product.
c.       Mesin-mesin yang dihasilkan dalam mesin produksi adalah mesin-mesin yang bersifat khusus untuk menghasilkan produk tersebu yang dikenal dengan nama special purpose machines.
d.      Oleh karena mesin-mesin yang bersifat khusus dan biasanya agak atomatis, maka pengaruh individu operator terhadap produk yang dihasilkan kecil sekali, sehingga operatornya tidak perlu mempunyai keahlian atau skill yang tinggi untuk pengerjaan produk tersebut.
e.       Jika salah satu mesin atau peralatan terhenti atau rusak, maka seluruh proses produksi akan terhenti.
f.       Mesin bersifat khusus dan variasi dari produksinya kecil maka job structurenya sedikit dan jumlah tenaga kerjanya tidak perluh banyak.
g.      Bersediaan bahan mentah dan bahan dalam proses adalah lebih rendah dari pada intermitent process, manufacturing.
h.      Bahan-bahan yang dipindahkan dengan peralatan handling yang tetap menggunakan tenaga mesin seperti ban berjalan.


2.1.7. Proses Produksi Terputus Putus (Intermitent Processes)
Menurut Assauri (2004, 75) pengertian dari proses produksi terputus-putus adalah proses produksi yang menggunakan waktu yang pendek dalam persiapan peralatan untuk perubahan yang cepat guna dapat menghadapi variasi produksi yang berganti-ganti.
Menurut T. Hani Handoko (2000, 1213) pengertian dari proses produksi terputus putus adalah suatu proses produksi yang mempunyai ciri produk dalam kupulan-kumpulan  atau kelompok-kelompok barang yang sejenis dalam interval waktu yang terputus putus.
Dapat disimpulkan bahwa proses produksi yang terputus-putus adalah proses produk yang memproses produk yang variasinya berganti-ganti dalam jangka waktu yang pendek dengan menggunakan mesin dan peralatan yang cepat guna.
Sedangkan sifat-sifat atau ciri-ciri dari proses produksi yang terputus-putus menurut Sofjan Assauri (2004, 76-77) adalah :
a.                   Produk yang dihasilkan dalam jumlah yang sangat kecil dengan variasi yang sangat besar (berbeda) dan didasarkan atas pesanan.
b.                  Proses seperti ini biasanya menggunakan berdasarkan atas fungsi dalam proses produksi atau peralatan yang sama dikelompokkan pada tempat yang sama, yang disebut dengan proses lay out atau departementation by equipment.
c.                   Mesin yang dipakai dalam proses produksi seperti ini adalah mesin-mesin yang bersifat umum.
d.                  Produk yang dihasilkan sangat besar, sehingga operatornya perlu mempunyai keahlian atau skill yang tinggi dalam pengerjaan produk tersebut.
e.                   Proses produksi tidak mudah atau akan terhenti walaupun terjadi kerusakan atau terhentiny salah satu mesin atau peralatan.

1.      Peralatan Produksi
Pada umumnya peralatan produksi ditujukan bagi peningkatan produktivitas buruh dalam rangka memperbanyak produk, baik dari segi variasinya maupun jumlahnya untuk memenuhi. kebutuhan manusia. Peralatan produksi akan mencakup berbagai sarana yang digunakan dalam proses produksi, yang berupa mesin atau jenis-jenis perkakas lain yang dipergunakan untuk melakukan pekerjaan dalam mengerjakan produk atau bagian-bagian produk.
2.      Kriteria Pemilihan Alat Produksi
Alasan diadakannya pembelian peralatan antara lain: peralatan baru diperlukan untuk memproduksi produk dan jasa lebih hanya volume penjualan yang terus meningkat, peralatan yang ada telah usang, dan peralatan yang ada telah memasuki masa aus serta harus diganti. Untuk memutuskan membeli peralatan baru maka perlu dilaksanakan survei terlebih dahulu, yang dilakukan melalui dua tahap, yaitu: pertama tahap pemakaian (penyaringan teknologi) yang meliputi kapasitas, kedua perhitungan biaya atau analisis ekonomi yang akan menentukan sejumlah alternatif teknis yang dipilih.

2.2.             Kerangka Pemikiran
Analisis sistem produksi merupakan kegiatan yang harus dilakukan pada saat memproduksi barang dan jasa, karena hal ini yang akan menentukan apakah barang yang diproduksi layak digunakan atau tidak.

Gambar 2.2
Kerangka Pemikiran


Sumber : Sofjan Assaruri “Manajemen Produksi dan Operasi” (2008 : 39)

Variabel dalam penelitian ini terdapat keterkaitan antara variabel input, proses dan output dalam sistem memproduksi tas (noken) tradisional Papua di Kota Jayapura. Jika di antara ketiga variabel diatas ada yang kurang, maka tidak bisa memproduksikan tas (noken) yang berkualitas karena unsur input, proses dan output adalah salah satu pola urutan atau aliran dalam sistem produksinya. Variabel input, proses dan output merupakan salah satu faktor penentu untuk menentukan hasil akhir atau output yang berkualitas.


BAB III
METODE PENELITIAN

3.1.            Jenis  dan Sumber Data
Jenis pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah antara lain :
a.       Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh dari hasil wawancara dan pengamatan di tempat produksi tas tradisional Papua di kota Jayapura dengn Ibu Tertina Amohoso sebagai responden. Ibu Tertina Amohoso adalah salah satu tenaga produksi tas tradisional Papua di depan Saga Mall Jayapura.
b.      Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari literatur-literatur seperti jurnal-jurnal, majalah, koran dan literatur lainnya sesuai dengan persoalan penelitian yang ada.
3.2.            Satuan Pengamatan dan Satuan Analisis

a.       Satuan Pengamatan
Yang menjadi satuan pengamatan dalam penelitian ini adalah sistem     produksi tas tradisional Papua di kota Jayapura.
b.      Satuan Analisis
Yang menjadi satuan analisis pada penelitian ini adalah sistem  input, proses dan output serta faktor produksi dalam sistem produksi tas tradisional Papua di kota Jayapura.

3.3.            Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dilakukan dengan dua cara, yaitu:
1.      Studi Lapangan

Metode pengumpulan data ini peneliti menggunakan dua metode, yaitu:
a)             Wawancara (Interview)
Untuk mendapatkan data yang akurat sesuai dengan variabel penelitian yang ada, maka penulis melakukan wawancara langsung dengan responden di obyek penelitian dengan Ibu Tertina Amohoso yang adalah salah satu tenaga produksi tas tradisional Papua di Kota Jayapura, yaitu tepatnya di depan Saga Mall Jayapura.

b)        Pengamatan (Observation)
Maksud dengan teknik ini adalah upaya untuk mengamati dan mencatat fenomena yang berkaitan dengan variabel penelitian yang ada.

2.     Studi Pustaka
Teknik pengumpulan data diperoleh melalui studi kepustakaan untuk memperoleh berbagai hal yang diuraikan diatas dan juga dengan, jurnal, internet, atau browsur maupun bahan-bahan referensi-referensi dan literatur yang relavan dengan masalah yang dibahas.

3.4.            Metode Analisis Data
Analisis data adalah kegiatan penulis setelah memperoleh data atau hasil observasi dan wawancara di objek penelitian, kemudian dianalisis serta dibahas.
Metode analisis data  yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini adalah teknik analisa data deskriptif  kualitatif. Metode ini dapat digunakan untuk mendapat gambaran tentang  persoalan penelitian yang ada secara kualitatif atau nonstatistik, dimana data dari sumber data yang dikumpulkan, diolah dan  dianalisa serta dibahas sehingga hasilnya dapat memberikan gambaran tentang sistem produksi tas (noken) tradisional Papua di Kota Jayapura.

3.5.            Definisi Operasional Variabel
1.      Sistem Produksi
Sistem produksi adalah unsur-unsur yang saling berkaitan dalam proses produksi tas (oken) tradisional Papua di Kota Jayapura.
2.      Input
Input merupakan elemen dari sistem yang bertugas untuk menerima seluruh masukan data, dimana masukan tersebut dapat berupa bahan mentah, tenaga kerja, dan peralatan yang digunakan dalam proses produksi tas (noken) tradisional Papua di Kota Jayapura.
3.      Proses Transformasi
Yang dimaksud dengan proses transformasi adalah suatu kegiatan dengan melibatkan tenaga rnanusia, bahan, dan peralatan kerja sehingga dapat menghasilkan produk yang berguna atau bernilai lebih. Atau dengan kata lain proses produksi adalah transformasi bahan masukan (input) menjadi produk  keluaran (output) dalam produksi tas tradisional Papua di Kota Jayapura.
4.      Hasil Akhir (Output)
Hasil akhir, yaitu jenis, jumlah, harga dan kualitas tas (noken) tradisional yang dihasilkan oleh mama-mama Papua di Kota Jayapura.


DAFTAR PUSTAKA
1.      Assauri , Sofyan, Manajemen Produksi dan Operasi, Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
2.      Handoko, T.  Hani, 1991, Dasar- dasar Manajemen Produksi dan Operasi, Edisi 1, BPFE Yogyakarta 13
3.      Ahyari, Agus , 1987, Manajemen Produksi I ( Mana 4336 ), Universitas Terbuka.
5.      https://www.google.co.id/proses produksi terputus-putus, Sofjan Assaruri.  


0 komentar:

Posting Komentar