PROPOSAL PENELITIAN
ANALISIS SISTEM PRODUKSI
TAS (NOKEN) TRADISIONAL PAPUA
DI
KOTA JAYAPURA
Usulan Penelitian Untuk Skripsi S–1
Diajukan Oleh :
INNER
YUAL
121163401140165
Program Studi Manajemen
UNIVERSITAS
OTTOW GEISSLER PAPUA
FAKULTAS
EKONOMI
JAYAPURA 2018
Lembar Pengesahan
Usulan Penelitian
ANALISIS SISTEM PRODUKSI
TAS (NOKEN) TRADISIONAL PAPUA
DI KOTA JAYAPURA
Oleh :
INNER YUAL
12116401140165
Program StudI Manajemen
Disetujui, Tanggal 12 Juni 2018
Dosen Seminar Konsentrasi
Ester Saranga, SE., M.Si
KATA
PENGANTAR
Segalah
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Allah Yang Maha Esa, karena kasih
dan pertolonganNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan usulan proposal penelitian dengan judul Analisis Sistem
Produksi Tas (Noken) Tradisional Papua di Kota Jayapura dengan tepat waktu.
Penulis
sangat menyadari bahwa, terselesainya ulusan proposal penelitian ini tidak
dapat terwujud jika tanpa campur tangan dan pimbingan dari berbagai pihak, namun boleh terlaksana dengan tepat waktu oleh karena
campur tangan dan pimbingan dari berbagai pihak. Olehnya itu,
dengan
segala kerendahan hati yang tulus penulis ingin menyampaikan rasa hormat dan
terima kasih serta penghargaan yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat :
1. Bapak
Dr. Ferdinandus Christian, SE., MM, selaku Dosen pembimbing dan pengajar mata
kuliah metode penelitian yang telah membekali penulis dengan ilmu pengetahuan
dan pengalamannya sehingga penulis bisa memahami bagaiman metode menulis penelitian
secara sistematis dan ilmiah.
2. Ibu
Ester Saranga, SE., M.Si, selaku Dosen seminar
konsentrasi yang telah meluangkan waktu, tenaga dan pikiran dalam memberikan
masukan yang berguna kepada penulis sehingga proposal penelitian ini dapat
terselesaikan dengan baik.
3. Bapak
Ibu, teman-teman, ade-ade dan seluruh pihak yang telah membantu penulis secara
moril dan material selama penyusunan usulan proposal penelitian ini.
Penulis
menyadari bahwa, penulisan usulan
proposal penelitian ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu,
penulis membutuhkan kritik dan saran yang bersifat membangun agar dapat menyempurnakan penulisan usulan proposal penelitian ini sesuai dengan sistematika penulisan yang berlaku.
Semoga proposal penelitian ini
menjadi salah satu sumbangan pemikiran dalam pengembangan ilmu ekonomi di
lembaga Universitas Ottow dan Geissler Jayapura, Papua.
Akhirnya
dengan segala kerendahan hati tulus dan iklas, penulis memohon kiranya Tuhan
yang punya berkat dan rahmatNya dapat menyertai kita semua “Amin”.
Port
Numbay,
2018
Penulis
Inner Yual
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Dewasa
ini banyak dijumpai perusahaan
yang memproduksi barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan masyarakat.
Untuk memproduksi barang dan jasa tersebut diperlukan adanya sistem produksi
yang baik, kualitas sumber daya manusia yang unggul dan fasilitas yang lengkap
untuk menghasilkan produk yang berkualitas bagi kehidupan masyarakat.
Pengertian
produksi menurut Aguilano (2001 : 8) adalah sebagai berikut: MERCU BUANA “ A
sistem that uses resources to transform input into some desired output”
Sedangkan menurut sofyan Assauri ( 2004 : 75) definisi proses produksi adalah
cara, metode dan teknik untuk menciptakan atau menambah kegunaan suatu barang
atau jasa dengan menggunakan sumber- sumber ( tenaga kerja, mesin, bahan-bahan dan
dana) yang ada.
Sistem
produksi adalah suatu rangkaian dari beberapa elemen yang saling berhubungan
dan saling menunjang antara satu dengan yang lain untuk mencapai suatu tujuan
tertentu. Dalam sistem produksi modern terjadi suatu proses transformasi nilai
tambah yang mengubah input menjadi output yang dapat dijual dengan harga
kompetitif di pasar.
(Ahyani, 1996: 8).
Untuk
menghasilkan suatu produk dapat dilakukan melalui beberapa cara, metode, dan
teknik yang berbeda-beda. Walaupun sistem produksi sangat banyak, tetapi secara
garis besar dapat dibedakan menjadi dua jenis sistem produksi, yaitu sistem
produksi terus menerus (kontiunuous
process) dan sistem produksi terputus-putus (intermiten process). Maka
dengan demikian, sistem produksi tas tradisional Papua di Kota Jayapura adalah
sistem produksi terputus-putus (intermident
process).
Sistem
produksi tas (noken) tradisional Papua di kota Jayapura juga merupakan suatu cara
atau teknik yang digunakan oleh mama-mama Papua dalam proses produksinya. Setiap
perusahaan kecil maupun besar sistem produksinya tentu berbeda-beda dan dapat
berubah-berubah sesuatu dengan kemajuan dan perkembangan modernisasi, tetapi
sistem produksi tas (noken) tradisional Papua di Kota Jayapura ini dahulu
hingga saat ini masih menggunakan dengan sistem produksi tradisional.
Walaupun
sistem produksi tas tradisional Papua di Kota Jayapura ini terlihat sistem
tradisional, tetapi alat dan bahan baku yang digunakan dalam proses produksi
tas tradisional Papua di kota Jayapura ini semakin perkembang sesuai dengan
tuntutan jaman. Sistem produksi tas
tradisional Papua adalah salah satu warisan budaya untuk terus berkreasi dan melestarikan
oleh kaum wanita di Papua, tetapi para kaum muda di Papua jarang mempelajari sistem produksi tas
tradisional Papua.
Sistem
produksi tas (noken) tradisional Papua di Kota Jayapura sejak dulu hingga saat
ini mama-mama Papua memproduksi tas (noken) dengan sistem masukan (input), transformasi (process) dan hasil akhir (output)nya secara tradisional.
Input
produksi adalah sumber daya yang biasa digunakan oleh mama-mama Papua dalam
proses produksi tas (noken) tradisional Papua di Kota Jayapura. Sumber daya yang dimaksud adalah tenaga
kerja, uang, cara produksi, material atau
bahan baku, mensin atau peralatan
produksi, informasi dan sumberdaya lainnya.
Sumber daya yang akan ditransformasikan sangat penting bagi mama-mama Papua dalam proses produksinya,
karena dengan demikian dapat memproduksi tas yang berkualitas
sesuai harapan pelanggan. Jika seluruh sumber daya
ini dapat dikelolah dengan baik, maka input produksi perusahaan dapat
ditransformasikan menjadi output produksi yang berkualitas.
“Proses adalah suatu cara, metode maupun
teknik untuk menyelenggarakan atau melaksanakan dari suatu hal tertentu.” (Agus
Ahyari, 2002: 65). Menurut Sofjan Assaruri (2008 :36) bahwa, proses produksi
merupakan kegiatan yang dengan menggunakan peralatan sehingga masukan atau
input dapat diolah menjadi keluaran yang berupa barang atau jasa yang akhirnya
dapat dijual kepada pelanggan untuk memungkinkan perusahaan memperoleh hasil
keuntungan yang diharapkan. Proses produksi yang dilakukan dalam suatu sistem,
sehingga pengolahan atau pentransformasian dapat dilakukan dengan menggunakan
peralatan yang dimiliki.
Pengertian
proses menurut Vincent Gaspersz
(2004 : 5), yaitu : “Produksi atau operasi adalah fungsi pokok dalam setiap
organisasi yang mencakup aktivitas yang bertanggung jawab untuk menciptakan
nilai tambah.
Produk yang merupakan keluaran (output) dari setiap organisasi
industri itu”.
Proses
produksi (transformasi) input menjadi output terbagi menajadi 3 tahap, yaitu
tahap persiapan, tahap pengerjaan dan tahap akhir. Tahap persiapan dilaksanakan
untuk melengkapi setiap alat dan bahan sesuaai dengan kebutuhan produksinya. Tahap pengerjaan
dilakukan untuk bahan input menjadi outpuut (tas noken tradisional Papua),
sedangkan tahap akhir, dapat dilaksanakan aktivitas inpeksi produk akhir guna
memastikan kualitas produk akhir. Dalam menjalankan proses transformasi
biasanya sumber daya manusia dan modal adalah faktor utama dalam sistem produksinya.
Proses
produksi tas tradisional Papua dahulu hanya menggunakan dengan bahan alamiah,
yaitu seperti kulit kayu manduan, nawa,
anggrek hutan dan kenemon dapat dipintal, dikeringkan, diserat atau ditenun tali sebagai benang kemudian dirajut tas (noken) atau
memproduksikan
tas tradisional Papua. Tidak hanya itu,
tas (noken) juga ciri khas yang berbeda dalam produksinya, baik dari bahan,
rajutan, hingga motifnya pun berbeda. Dalam produksi
tas tradisional Papua ini juga biasanya menggunakan bahan pewarna alamiah tertentu,
yaitu seperti warna kuning, merah, hitam dan hijau. Namun era perkembangan
ini terus berjalan, maka ada banyak bahan dan alat yang mempermudah mama-mama
Papua dalam memproduksi
tas tradisional Papua di Kota Jayapura, sepertinya adalah benang dan lain-lain
sehingga mama-mama Papua bisa dapat memproduksikan tas yang berkualitas menurut bentuk, ukuran dan warna
tasnya. Ada dua jenis tas (noken), yaitu tas asli dan benang.
Kedua jenis noken tersebut memiliki perbedaan baik dari bahan baku, bentuk,
ukuran dan warnanya.
Hasil
akhir (output) yang dihasilkan oleh mama-mama Papua di kota Jayapura adalah
berupa barang/tas (noken) berukuran sedang, kecil, ada yang berbentuk baju,
topi dan berbagai jenis atau model tasnya. Cara menggunakan tas (noken)
tradisional Papua adalah ada yang disangkutkan dari kepala ke belakang, ada
yang disangkutkan diatas bahu dan bisa mengenakan seperti baju dan topi. Selain
itu kualitas dan harga tas (noken) juga
adalah salah satu hasil akhir dari sistem produksi tas tradisional Papua di
Kota Jayapura.
Berdasrkan uraian latar belakang diatas, maka penulis
tertarik untuk mengambil judul penelitian tentang: ANALISIS SISTEM PRODUKSI TAS
(NOKEN) TRADISIONAL PAPUA DI KOTA
JAYAPURA
1.2. Rumusan
Masalah
Sistem
produksi tas tradisional Papua di kota Jayapura adalah suatu cara atau teknik
yang digunakan oleh mama-mama Papua dalam memproduksi tas (noken) tradisional
Papua, namun mama-mama Papua di kota Jayapura saat ini masih mengalami kendala
dalam sistem produksinya. Oleh karena itu, yang menjadi rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah “Bagaimana Sistem
Produksi Tas (Noken) Tradisional Papua di Kota Jayapura”.
1.3. Persoalan Penelitian
Terkait dengan rumusan masalah diatas, maka yamg menjadi
pokok persoalan dalam penelitian ini adalah :
1.
Apa yang menjadi input
dalam sistem produksi tas tradisional Papua di Kota Jayapura?
2.
Bagaimana proses produksi tas
tradisional Papua di Kota Jayapura?
3.
Bagaimana perkembangan
output sistem produksi tas tradisional Papua di Kota Jayapura?
4.
Faktor-faktor apa saja yang
mempengaruhi sistem produksi tas tradisional Papua di Kota Jayapura
1.4. Tujuan
Penelitian
Adapun tujuan dari pada penelitian ini adalah sebagai berikut
:
1.
Untuk
mengetahui
input dalam sistem produksi tas tradisional Papua di Kota
Jayapura.
2.
Untuk
mengetahui proses produksi tas tradisional Papua di Kota Jayapura
3.
Untuk mengetahui
bagaimana perkembangan output sistem produksi tas tradisional Papua di Kota
Jayapura.
4.
Untuk
mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi dalam sistem
produksi tas tradisional
Papua di Kota Jayapura.
1.5. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat
bermanfaat bagi :
1.
Secara akademis,
diharapkan agar dapat memberikan masukan untuk
pengembangan ilmu pengetahuan tentang Sistem Produksi Tas (Noken)
Tradisional Papua di kota Jayapura
2.
Secara praktis dapat
dijadikan sebagai bahan masukan kepada
mama-mama Papua untuk mengampil keputusan yang tepat terkait dengan sistem
produksi tas tradisional Papua di Kota Jayapura.
3.
Bagi peneliti dapat
menambah wawasan dan pengalaman yang sebenarnya tentang sistem produksi Tas
(Noken) Tradisional Papua di Kota Jayapura.
1.6. Sejarah Tas (Noken)
Tradisional Papua
Dahulu tas (noken)
mulai dibuat dengan pemikiran warga saat mereka mengalami kendala ketika
memindahkan barang dari satu tempat ke tempat lain dan noken menjadi salah satu
barang yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat di Papua sejak dahulu hingga
saat ini. Tujuan memproduksinya tas
tradisional Papua ini adalah untuk memindahkan barang dari satu tempat ke
tempat lain menggunakan kepala disangkutkan ke bagian belakangm, sepertinya hasil
panen, bayi, barang dagangan dan lain-lain.
Oleh karena kegunaan dan keunikan yang dibawah dengan kepala, maka Indonesia telah meratifikasi
Konvensi UNESCO 2012
melalui Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 78 Tahun 2007, tentang
Pengesahan Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak benda.
Karena keunikan yang dibawah dengan kepala ini juga, tas
(noken) tradisional Papua telah didaftarkan ke UNESO sebagai salah satu hasil
karya trodisional dan warisan budaya dunia tak benda (intangible heritage) dalam sidang UNESCO (Unidet Nations Educational Scientific and Cultural Organization)
di Paris, pada tanggal 4 Desemer 2012. Maka tas (noken) tradisional masyarakat
Papua ditetapkan sebagai warisan kebudayaan tak benda di UNESCO. Jadi,
pengakuan UNESCO ini telah mendorong untuk upaya melindungi, mengembangkan dan
melestarikan tas tradisional yang dimiliki oleh 250 suku bangsa di Papua dan
Papua Barat.
Jadi, tas (noken) tradisional Papua di Kota Jayapura sudah
terkenal oleh masyarakat internasional, oleh karena itu perlu ada upaya untuk
melindungi, mengembangkan dan melestarikan sebagai warisan khas Papua.
BAB
II
LANDASAN
TEORI
2.1. Telaah
Pustaka
2.1.1. Pengertian Produksi
Sehubungan
dengan permasalahan yang terdapat dalam penelitian ini maka diperlukan adanya
teori-teori atau konsep-konsep yang memerlukan penjelasan tentang sistem
produksi atau operasi.
Istilah
produksi atau operasi sering digunakan pada suatu perusahaan yang menghasilkan
output, baik barang maupun jasa. Produk adalah suatu proses dalam menghasilkan
suatu produk, dimulai dari produk mentah sampai dengan produk yang bisa dipakai
dan bernilai guna. Pengertian produksi atau operasi dapat lebih jelas diketahui
dari beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ahli, diantaranya adalah
sebagai berikut :
Pengertian
produksi menurut Sofyan Assaruri (2008; 17), yaitu : “produksi adalah kegiatan
yang mentransformasikan masukan (input) menjadi keluaran (output), tercakup
semua aktivitas atau kegiatan yang menghasilkan barang dan jasa, serta
kegiatan-kegiatan lain yang mendukung atau menunjang usaha untuk menghasilkan
produk tersebut yang berupa barang-barang atau jasa”.
Dari
definisi yang dikemukakan oleh Vincent Gaspersz diatas, maka dapat disimpulkan
bahwa suatu tugas atau aktivitas dikatakan memiliki nilai tambah apabila
penambahan beberapa masukan (input) pada tugas itu akan memberikan nilai tambah
produk (barang dan jasa). Proses transformasi nilai tambah dari masukan (input)
menjadi keluaran (output) dalam sistem produksi modern selalu melibatkan
komponen struktural dan fungsional.
Menurut
Vincent Gaspersz (2004; 6), yaitu sistem produskk memiliki beberapa
karakteristik sebagai berikut :
1. Mempunyai
komponen-komponen atau elemen-elemen yang saling berkaitan satu sama lain dan
membentuk sat kesatuan yang utuh. Hal ini berguna sistem produksi itu.
2. Mempunyai
tujuan yang mendasari keberadaannya, yaitu menghasilkan produk (barang dan
jasa) berkualitas yang dapat dijual dengan harga kompentitif di pasar.
3. Mempunyai
aktivitas berupa proses transformasi nilai tambah keluaran (output) secara
efektif dan efisien.
4. Mempunyai
mekanisme yang mengendalikan pengoperasiannya, berupa optimalisasi
pengalokasian sumber-sumber daya.
Pengertian
produksi atau operasi menurut Reksohadiprodjo (2002; 2), yaitu “produksi adalah
transformasi faktor-faktor produksi (bahan mentah, tenaga kerja, modal dan
teknologi menjadi hasil-hasil produksi (produk).
Berdasarkan
definsi-definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa produksi atau operasi adalah
suatu aktivitas penciptaan barang atau jasa dengan menggunakan sumber daya yang
dimiliki dengan mempertimbangkan pula aktivitas-aktivitas pendukung lainnya.
2.1.2. Sistem Produksi
Sistem produksi terdiri atas Masukan (Input), Proses
(Transformasi) dan Keluaran (Output), dalam bentuk umum sistem ini terdapat
satu atau lebih masukan yang akan diproses dan akan menghasilkan suatu
keluaran. Faktor-faktor produksi dikenal pula dengan istilah input dan
jumlah produksi selalu juga disebut sebagai output.(Sadono Sukirno, 2008 : 193).
Menurut
Andi Kristanto (2003), Sistem adalah jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang
saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan atau
menyelesaikan suatu sasaran tertentu. Sistem dapat diartikan sebagai suatu kumpulan
atau himpunan dari unsur, komponen atau variable-variabel yang terorganisasi,
saling berinteraksi, saling tergantung satu sama lain dan terpadu.
Produksi dalam
pengertian sederhana adalah keseluruhan proses dan operasi yang dilakukan untuk
menghasilkan produk barang atau jasa. System produksi merupakan kumpulan dari
sub system yang saling berinteraksi dengan tujuan mentransformasi input
produksi menjadi output produksi. Input produksi ini dapat berupa bahan baku,
mesin, tenaga kerja, modal dan informasi. Sedangkan output produksi merupakan
produk yang dihasilkan berikut sampingannya seperti barang dan jasa.
Pengertian
produksi menurut Aguilano (2001,P8)
adalah sebagai berikut: MERCU BUANA “ A Sistem that uses resources to transform
input into some desired output”Sedangkan menurut Sofyan Assauri ( 2004,P75) definisi proses atau produksi adalah
cara metode dan teknik untuk menciptakan atau menambah kegunaan suatu barang
atau jasa dengan menggunakan sumber daya seperti, ( tenaga kerja,mesin, dana
dan material) yang ada.
Sistem produksi
dalam pengertian sederhana adalah keseluruhan proses dan operasi yang dilakukan
untuk menghasilkan produk atau jasa. Sistem produksi adalah kumpulan dari sub
sistem yang saling berinteraksi dengan tujuan mentransformasi masukan (input)
produksi menjadi keluaran (output) produksi. Masukan (input) produksi ini dapat
berupa bahan baku, mesin, tenaga kerja, modal dan informasi. Sedangkan keluaran
(output) produksi merupakan produk yang dihasilkan berikut sampingannya seperti
limbah, informasi dan sebagainya. Sistem produksi tersebut dapat dilihat pada
gambar 2.1 sebagai berikut :
Gambar
2.1
Sistem
Produksi
Sumber
: Sofjan Assaruri “Manajemen Produksi dan Operasi” (2008 : 39)
Sub
sistem – sub sistem dari sistem produksi antara lain adalah perencanaan dan
pengendalian produksi, pengendalian kualitas, penentuan stantar produksi,
peralatan atau fasilitas produksi dan penentuan harga pokok produksi.
Sub
sistem – sub sistem dari sistem produksi tersebut akan membentuk konfigurasi
sistem produksi. Keandalan dari konfigurasi sistem produksi ini akan tergantung
dari produk yang dibuat serta bagaimana cara membuatnya (proses produksi).
Untuk
melaksanakan fungsi-fungsi perencanaan harus memiliki organ pelaksanaan. Sistem
produksi pada suatu perusahaan harus memiliki bagian-bagian atau organ.
Sistem
produksi berawal dari pemahaman terhadap keinginan dan harapan para pelanggan
berdasarkan temuan-temuan dari para pelanggan terhadap produk-produk tertentu.
Data dan informasi tentang keinginan pelanggan kemudian diterjemahkan ke dalam
bentuk rancangan produk atau jasa untuk mengetahui part, komponen dan sub
asambly apa yang dibutuhkan termasuk ukuran,
spesifikasi, jenis bahan, jumlah masing-masing item yang untuk setiap unit produk yang diinginkan.
2.1.3.
Sistem Produksi Menurut Proses Menghasilkan Output
Proses produksi merupakan cara, metode, dan teknik untuk menciptakan atau
menambah kegunaan suatu produk dengan mengoptimalkan sumber daya produksi
(tenaga kerja, mesin, bahan baku, dana) yang ada. Sistem produksi menurut
proses menghasilkan output secara ekstrem dapat dibedakan menjadi dua jenis,
yaitu:
a)
Proses Produksi Kontinyu (continuous
process)
b)
Proses Produksi Terputus (intermittent
process/discrete system)
Perbedaan
pokok antara kedua proses terletak pada lamanya waktu set-up peralatan
produksi. Proses kontinyu tidak memerlukan waktu set-up yang lama karena proses
ini memproduksi secara terus-menerus untuk jenis produk yang sama. Misalnya
pada pabrik susu instan. Sedangkan proses terputus memerlukan total waktu
set-up yang lebih lama karena proses ini memproduksi berbagai proses
spesifikasi barang sesuai pesanan, dimana dengan adanya pergantian jenis barang
yang diproduksi akan membutuhkan kegiatan set-up yang berbeda. Misalnya usaha
perbengkelan.
Selain dua
jenis ekstrem tersebut, beberapa ahli sistem produksi mengidentifikasikan
adanya proses produksi menurut cara menghasilkan output yang cukup penting,
yaitu Proses Produksi Repetitif. Heizer (1988) mendefinisikan proses produksi
repetitif sebagai kombinasi antara proses kontinyu dan proses terputus.
2.1.4. Sistem
Produksi Menurut Tujuan Operasinya
Dilihat dari tujuan perusahaan melakukan operasi dalam hubunganya dengan
pemenuhan kebutuhan konsumen, maka sistem produksi dibedakan menjadi empat
jenis, yaitu:
a)
Enginering To Order (ETO), yaitu
bila pemesan meminta produsen untuk membuat produk yang dimulai dari proses
perancangannya (rekayasa).
b)
Assembly To Order (ATO), yaitu bila
produsen membuat desain standar, modul-modul opsional standar yang sebelumnya
dan merakit suatu kombinasi tertentu dari modul-modul tersebut sesuai dengan
pesanan konsumen. Modul-modul standar tersebut bisa dirakit untuk berbagai tipe
produk. Contohnya adalah pabrik mobil, dimana mereka menyediakan pilihan
transmisi secara manual atau otomatis.
c)
Make To Order (MTO), yaitu bila
produsen menyelesaikan item akhirnya jika dan hanya jika telah menerima pesanan
konsumen untuk item tersebut.
d)
Make To Stock (MTS), yaitu bila
produsen membuat item-item yang diselesaikan dan ditempatkan sebagai persediaan
sebelum pesanan konsumen diterima.
2.1.5. Sistem
Produksi Menurut Aliran Operasi dan Variasi Produk
Ada tiga jenis dasar aliran operasi, yaitu flow shop, job shop, dan proyek
(Kostas, 1982). Ketiga jenis dasar aliran operasi ini berkembang menjadi aliran
operasi modifikasi dari ketiganya, yaitu batch dan continuous). Adapu
karakteristikmasing-masing aliran tersebut, yaitu;
a)
Flow Shop, yaitu proses konversi
dimana unit-unit output secara berturut-turut melalui urutan operasi yang sama
pada mesin-mesin khusus, biasanya ditempatkan sepanjang suatu lintasan
produksi. Bentuk umum proses flow shop dapat dibagi menjadi jenis produksi flow
shop kontinyu dan flow shop terputus. Pada flow shop kontinyu, proses bekerja
untuk memproduksi jenis output yang sama, misalnya pada industri rokok SKM
otomatis. Pada slow shop terputus, kerja proses secara periodik diinterupsi
untuk melakukan set-up bagi pembuatan produk dengan spesifikasi yang berbeda
(meskipun dari desain dasar yang sama).
b)
Continuous, proses ini merupakan
bentuk ekstrem dari flow shop dimana terjadi aliran material yang konstan.
Contoh dari proses kontinyu adalah industri penyulingan minyak, pemrosesan
kimia, dan industri-industri lain dimana kita tidakdapat mengidentifikasi
unit-unit output urutan prosesnya secara tepat.
c)
Job Shop, merupakan bentuk proses
konversi dimana unit-unit untuk pesanan yang berbeda akan mengikuti urutan yang
berbeda pula dengan melalui pusat-pusat kerja yang dikelompokan berdasarkan
fungsinya.
d)
Batch, merupakan bentuk satu langkah
kedepan dibandingkan job shop dalam hal standarisasi produk, tetapi tidak
terlalu terstandarisasi seperti produk yang dihasilkan pada aliran lintasan
perakitan flow shop.
e)
Proyek, merupakan proses penciptaan
satu jenis produk yang agak rumit dengan suatu pendefinisian urutan tugas yang
teratur dengan kebutuhan sumber daya dan penyelesaiannya dibatasi oleh waktu.
2.1.6. Proses Produksi
Terus Menerus (Continuouse Pracesses)
Menurut Sofjan Assauri (2004, 75) proses produksi
terus menerus adalah : proses produksi yang menggunakan mesin dan peralatan
yang dipersiapkan untuk memproduksi produk dalam jangka waktu yang lama atau
panjang tanpa mengalami perubahan untuk jenis produk yang sama.
Menurut
T. Hani Handoko (2000, 122) : proses produksi terus menerus adalah proses
produksi yang memproduksi kumpulan-kumpulan produk dalam jumlah besar dengan
mengikuti serangkaian operasi yang sama dengan kumpulan produk sebelumnya.
Dari
kedua definisi diatas dapat disimpulan bahwa proses produksi yang terus menerus
adalah suatu proses produksi yang memproduksi produk yang sejenis dalam waktu
yang panjang.
Menurut
Sofjan Assauri (2004, 76) sifat-sifat atau ciri-ciri proses produksi yang terus
menerus adalah sebagai berikut :
a. Produk
yang dihasilkan dalam jumlah besar (produksi masa) dengan variasi sangat kecil
dan sudah distandarisasi.
b. Biasanya
menggunakan sistem atau cara penyusunan berdasarkan urutan pengerjaan dari
produk yang dihasilkan yang disebut product
lay out atau departement by product.
c. Mesin-mesin
yang dihasilkan dalam mesin produksi adalah mesin-mesin yang bersifat khusus
untuk menghasilkan produk tersebu yang dikenal dengan nama special purpose
machines.
d. Oleh
karena mesin-mesin yang bersifat khusus dan biasanya agak atomatis, maka
pengaruh individu operator terhadap produk yang dihasilkan kecil sekali,
sehingga operatornya tidak perlu mempunyai keahlian atau skill yang tinggi untuk pengerjaan produk tersebut.
e. Jika
salah satu mesin atau peralatan terhenti atau rusak, maka seluruh proses
produksi akan terhenti.
f. Mesin
bersifat khusus dan variasi dari produksinya kecil maka job structurenya sedikit dan jumlah tenaga kerjanya tidak perluh
banyak.
g. Bersediaan
bahan mentah dan bahan dalam proses adalah lebih rendah dari pada intermitent process, manufacturing.
h. Bahan-bahan
yang dipindahkan dengan peralatan handling yang tetap menggunakan tenaga mesin
seperti ban berjalan.
2.1.7. Proses Produksi
Terputus Putus (Intermitent Processes)
Menurut
Assauri (2004, 75) pengertian dari proses produksi terputus-putus adalah proses
produksi yang menggunakan waktu yang pendek dalam persiapan peralatan untuk
perubahan yang cepat guna dapat menghadapi variasi produksi yang
berganti-ganti.
Menurut
T. Hani Handoko (2000, 1213) pengertian dari proses produksi terputus putus
adalah suatu proses produksi yang mempunyai ciri produk dalam
kupulan-kumpulan atau kelompok-kelompok
barang yang sejenis dalam interval waktu yang terputus putus.
Dapat
disimpulkan bahwa proses produksi yang terputus-putus adalah proses produk yang
memproses produk yang variasinya berganti-ganti dalam jangka waktu yang pendek
dengan menggunakan mesin dan peralatan yang cepat guna.
Sedangkan
sifat-sifat atau ciri-ciri dari proses produksi yang terputus-putus menurut
Sofjan Assauri (2004, 76-77) adalah :
a.
Produk yang dihasilkan
dalam jumlah yang sangat kecil dengan variasi yang sangat besar (berbeda) dan
didasarkan atas pesanan.
b.
Proses seperti ini
biasanya menggunakan berdasarkan atas fungsi dalam proses produksi atau
peralatan yang sama dikelompokkan pada tempat yang sama, yang disebut dengan
proses lay out atau departementation by equipment.
c.
Mesin yang dipakai
dalam proses produksi seperti ini adalah mesin-mesin yang bersifat umum.
d.
Produk yang dihasilkan
sangat besar, sehingga operatornya perlu mempunyai keahlian atau skill yang tinggi dalam pengerjaan
produk tersebut.
e.
Proses produksi tidak
mudah atau akan terhenti walaupun terjadi kerusakan atau terhentiny salah satu
mesin atau peralatan.
Pada umumnya
peralatan produksi ditujukan bagi peningkatan produktivitas buruh dalam rangka
memperbanyak produk, baik dari segi variasinya maupun jumlahnya untuk memenuhi.
kebutuhan manusia. Peralatan produksi akan mencakup berbagai sarana yang
digunakan dalam proses produksi, yang berupa mesin atau jenis-jenis perkakas
lain yang dipergunakan untuk melakukan pekerjaan dalam mengerjakan produk atau
bagian-bagian produk.
Alasan diadakannya pembelian
peralatan antara lain: peralatan baru diperlukan untuk memproduksi produk dan
jasa lebih hanya volume penjualan yang terus meningkat, peralatan yang ada
telah usang, dan peralatan yang ada telah memasuki masa aus serta harus
diganti. Untuk memutuskan membeli peralatan baru maka perlu dilaksanakan survei
terlebih dahulu, yang dilakukan melalui dua tahap, yaitu: pertama tahap
pemakaian (penyaringan teknologi) yang meliputi kapasitas, kedua perhitungan
biaya atau analisis ekonomi yang akan menentukan sejumlah alternatif teknis
yang dipilih.
2.2.
Kerangka Pemikiran
Analisis sistem produksi merupakan
kegiatan yang harus dilakukan pada saat memproduksi barang dan jasa, karena hal
ini yang akan menentukan apakah barang yang diproduksi layak digunakan atau
tidak.
Gambar 2.2
Kerangka Pemikiran
Sumber
: Sofjan Assaruri “Manajemen Produksi dan Operasi” (2008 : 39)
Variabel
dalam penelitian ini terdapat
keterkaitan antara variabel input, proses dan output dalam sistem memproduksi tas
(noken) tradisional Papua di Kota Jayapura. Jika di antara ketiga variabel
diatas ada yang kurang, maka tidak bisa memproduksikan tas (noken) yang
berkualitas karena unsur input, proses dan output adalah salah satu pola urutan
atau aliran dalam sistem produksinya. Variabel input, proses dan output
merupakan salah satu faktor penentu untuk menentukan hasil akhir atau output
yang berkualitas.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1.
Jenis
dan Sumber Data
Jenis pengumpulan data
yang digunakan dalam penelitian ini adalah antara lain :
a. Data
Primer
Data
primer adalah data yang diperoleh dari hasil wawancara dan pengamatan di tempat
produksi tas tradisional Papua di kota Jayapura dengn Ibu Tertina Amohoso sebagai
responden. Ibu Tertina Amohoso adalah salah satu tenaga produksi tas
tradisional Papua di depan Saga Mall Jayapura.
b. Data
Sekunder
Data
sekunder adalah data yang diperoleh dari literatur-literatur seperti jurnal-jurnal,
majalah, koran dan literatur lainnya sesuai dengan persoalan penelitian yang
ada.
3.2.
Satuan
Pengamatan dan Satuan Analisis
a.
Satuan Pengamatan
Yang
menjadi satuan pengamatan dalam penelitian ini adalah sistem produksi tas tradisional Papua di kota
Jayapura.
b.
Satuan Analisis
Yang
menjadi satuan analisis pada penelitian ini adalah sistem input, proses dan output serta faktor produksi
dalam sistem produksi tas tradisional Papua di kota Jayapura.
3.3.
Metode
Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dilakukan
dengan dua cara, yaitu:
1.
Studi
Lapangan
Metode pengumpulan data ini peneliti menggunakan
dua metode, yaitu:
a)
Wawancara
(Interview)
Untuk
mendapatkan data yang akurat sesuai dengan variabel penelitian yang ada, maka
penulis melakukan wawancara langsung dengan responden di obyek penelitian
dengan Ibu Tertina Amohoso yang adalah salah satu tenaga produksi tas
tradisional Papua di Kota Jayapura, yaitu tepatnya di depan Saga Mall Jayapura.
b)
Pengamatan
(Observation)
Maksud
dengan teknik ini adalah upaya untuk mengamati dan mencatat fenomena yang
berkaitan dengan variabel penelitian yang ada.
2.
Studi
Pustaka
Teknik
pengumpulan data diperoleh melalui studi kepustakaan untuk memperoleh berbagai
hal yang diuraikan diatas dan juga dengan, jurnal, internet, atau browsur
maupun bahan-bahan referensi-referensi dan literatur yang relavan dengan
masalah yang dibahas.
3.4.
Metode
Analisis Data
Analisis
data adalah kegiatan penulis setelah memperoleh data atau hasil observasi dan
wawancara di objek penelitian, kemudian dianalisis serta dibahas.
Metode analisis
data yang digunakan oleh penulis dalam
penelitian ini adalah teknik analisa data deskriptif kualitatif. Metode ini dapat digunakan untuk
mendapat gambaran tentang persoalan
penelitian yang ada secara kualitatif atau nonstatistik, dimana data dari
sumber data yang dikumpulkan, diolah dan
dianalisa serta dibahas sehingga hasilnya dapat memberikan gambaran tentang
sistem produksi tas (noken) tradisional Papua di Kota Jayapura.
3.5.
Definisi
Operasional Variabel
1.
Sistem
Produksi
Sistem produksi adalah unsur-unsur yang
saling berkaitan dalam proses produksi tas (oken) tradisional Papua di Kota
Jayapura.
2.
Input
Input merupakan elemen dari sistem yang
bertugas untuk menerima seluruh masukan data, dimana masukan tersebut dapat
berupa bahan mentah, tenaga kerja, dan peralatan yang digunakan dalam proses
produksi tas (noken) tradisional Papua di Kota Jayapura.
3.
Proses
Transformasi
Yang dimaksud dengan proses
transformasi adalah suatu kegiatan dengan
melibatkan tenaga rnanusia, bahan, dan peralatan kerja sehingga dapat
menghasilkan produk yang berguna atau bernilai lebih.
Atau dengan kata lain proses produksi adalah transformasi bahan
masukan (input) menjadi produk keluaran (output) dalam produksi tas
tradisional Papua di Kota Jayapura.
4.
Hasil
Akhir (Output)
Hasil akhir, yaitu jenis, jumlah, harga dan kualitas tas (noken)
tradisional yang dihasilkan oleh mama-mama Papua di Kota Jayapura.
DAFTAR
PUSTAKA
1. Assauri , Sofyan, Manajemen Produksi dan Operasi, Lembaga Penerbit
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
2. Handoko, T. Hani, 1991, Dasar-
dasar Manajemen Produksi dan Operasi, Edisi 1, BPFE Yogyakarta 13
3. Ahyari, Agus , 1987, Manajemen Produksi I ( Mana 4336 ), Universitas
Terbuka.
5. https://www.google.co.id/proses
produksi terputus-putus, Sofjan Assaruri.










0 komentar:
Posting Komentar